"CP11 e-commerce Univeritas Dhyana Pura"



MENJINAKKAN DUNIA DIGITAL, MEMANUSIAWIKAN MANUSIA
Oleh Dr. Fitzerald Kennedy Sitorus1

I.        Internet sebagai conditio humana
            Sekarang ini hampir tidak ada lagi bidang dalam kehidupan kita yang tidak bersentuhan dengan internet. Kebutuhan akan makanan, jodoh, aspirasi politik, pacar, kesehatan, transportasi, informasi tentang kondisi lalu lintas, hiburan, pengetahuan, sekolah, agama bahkan seksualitas, dan lain sebagainya, telah (dapat) melibatkan internet. Jelas bahwa komunikasi melalui internet bukan lagi sekunder bagi banyak orang, melainkan telah menjadi komunikasi primer. Semua perkembangan ini membuat internet telah menjadi -- dengan meminjam ungkapan filsuf Jerman, Martin Heidegger -- cara mengada manusia itu sendiri (mode of being). Sebagai manusia kita tidak lagi menggunakan internet, melainkan telah menginternet: kita ada dalam dan melalui internet; ia menjadi kondisi kemanusiaan (conditio humana) kita. Tanpa internet kita (merasa) tidak ada, tidak eksis, artinya, seakan-akan lumpuh, kurang manusiawi. Manusia sekarang telah menjadi makhluk amphibi: hidup dalam dua dunia, yakni dunia virtual dan dunia real-korporeal. Itulah homo digitalis, manusia yang hidup dalam dunia yang serba digital.

II.        Sejumlah Pertanyaan
            Mengapa refleksi kritis atas fenomena intensifikasi penggunaan perangkat digital ini penting? Tidak lain dan tidak bukan karena dunia digital telah sedemikian jauh mempengaruhi bahkan menentukan kehidupan kita. Kalau kita memperhatikan bagaimana hubungan internet dan manusia dewasa ini, maka tidak berlebihan mengatakan bahwa bukan kita lagi yang menggunakan dan mengarahkan internet, melainkan internet yang mengarahkan dan menentukan kita. Kita seakanakan terserap olehnya. Kita menghabiskan waktu berjam-jam di dalamnya. Internet mengkonsumsi kita, dan bukan sebaliknya. Mengapa demikian? Karena kita menyesuaikan diri ke padanya, kepada framework-nya. Lihatlah perubahan gaya hidup yang terjadi berkat facebook, misalnya. Bayangkanlah berapa banyak waktu yang dihabiskan oleh ratusan juta pemilik account facebook untuk chatting atau sekadar surfing di sana. Berapa banyak informasi, yang berguna maupun tidak berguna (hoax) bersileweran di sana, dan bagaimana semua itu mempengaruhi banyak orang. Banyak kejadian fenomenal di dunia terjadi karena dengan dukungan internet. Kita tergantung kepadanya. Pertanyaan terpenting dalam kaitan dengan fenomena dunia digital ini adalah: apakah manusia menjadi semakin manusiawi dalam dunia digital tersebut? Apakah manusia masih tetap dapat mempertahankan otonominya berhadapan dengan intervensi dunia digital tersebut? Masihkah manusia dapat disebut sebagai subjek yang menentukan arah perkembangan dunia digital? Pertanyaan-pertanyaan ini diajukan dengan bertolak dari keyakinan bahwa manusia tidak seharusnya menyerahkan perkembangan dirinya kepada sebuah konstelasi teknologis apapun.

III.        Internet dan dehumanisasi
            Perkembangan teknologi dalam dunia digital sekarang sesungguhnya telah merampas atau mendangkalkan kemanusiaan kita. Namun, perlu segera ditekankan, ini bukan sebuah sikap antipati terhadap teknologi. Namun, perkembangan teknologi dalam dunia digital sekarang menimbulkan kekuatiran bagi banyak pihak karena dia justru dalam banyak hal telah membuat kita menjadi kurang manusiawi, atau kemanusiaan kita menjadi rendah. Teknologi yang seharusnya memanusiawikan itu justru kenyataannya merendahkan kemanusiaan. Dekadensi kemanusiaan ini ini terjadi baik pada level ontologis, kognitif, afektif dan motoric. Gejala negatif lainnya yang diakibatkan teknologi adalah kemampuan kita untuk konsentrasi pada sebuah tema tertentu merosot. Kita menjadi manusia yang cepat bosan, tidak mampu lagi menekuni sesuatu dalam waktu lama. Sebentar-sebentar kita merasa tergoda untuk menengok ke handphone kita untuk melihat apakah ada sesuatu yang baru di sana, entah dalam WA atau SMS.

IV.        Penjungkir-balikan Nilai-nilai
            Satu dampak negatif yang sangat nyata terlihat dalam perkembangan komunikasi digital dewasa ini adalah terjadinya perubahan besar dalam nilai: bukan lagi pergeseran nilai, tapi mungkin sudah „penjungkir-balikan nilai-nilai“ (Umwertung aller Werte), sebagaimana dikatakan filsuf Jerman Friedrich Nietzsche. Nilai adalah sesuatu yang berharga, yang dijunjung tinggi oleh sebuah komunitas. Nilai itu bersifat normatif karena ia menentukan bagaimana kita bersikap dan bertindak. Komunikasi dalam dunia digital telah mengakibatkan jungkir-baliknya nilai-nilai seperti sopansantun, privasi, kekeluargaan, persahabatan, pengetahuan, keahlian, hak asasi dan martabat manusia, dan lain-lain. Demokratisasi yang kebablasan dalam media-media sosial telah mengakibatkan bahwa di sana tidak ada lagi yang disebut dengan keahlian.

V.        Perlunya Etika Komunikasi Digital
            Pada tahun 2014, di Jerman telah didirikan sebuah Institut untuk Etika Digital di Sekolah Tinggi Media di kota Stuttgart (Institut für Digitale Ethik/Hochschule der Medien Stuttgart. Melihat pola-pola dan dinamika komunikasi pada dunia digital, Prof. Dr. Petra Grimm, seorang profesor pada institut tersebut, mengatakan bahwa „sebuah internet tanpa etika tidak akan dapat berfungsi dengan baik. Komunikasi digital membutuhkan etika yang berbeda dari komunikasi real karena komunikasi digital umumnya berlangsung dalam anonimitas. Komunikasi digital membutuhkan etika khusus, dan etika tersebut mesti dirumuskan dengan bertolak dari konsepsi manusia yang bermartabat. Etika tersebut mesti dapat berperan sebagai orientasi yang bersifat normatif dalam dunia yang telah terdigitalisasi. Keberadaan etika komunikasi digital ini sangat mendesak, terutama bagi masyarakat kita sekarang ini, di mana kita sering membaca atau mendengar perilaku yang nyaris tanpa etika, baik dari masyarakat biasa maupun dari tokoh-tokoh ternama; dan tidak sedikit pula dari komunikasi yang tidak sehat tersebut kemudian berakhir di pengadilan. Mungkinkah kelompok Forum Pendeta Universitas/Kampus ini mempelopori studi mengenai etika tersebut?

VI.        10 PERINTAH DALAM ETIKA KOMUNIKASI DIGITAL
1.    Jangan mengekspos dirimu telalu banyak.
2.    Waspadalah dan tolak bila engkau diawasi dan data-data dirimu disimpan
3.    Jangan mempercayai segala sesuatu yang engkau lihat dan baca secara online dan usahakan mencari sumber-sumber informasi alternatif.
4.    Jangan pernah toleran terhadap perundungan (bullying) dan perilaku kebencian.
5.    Hargailah martabat orang lain dan ingat bahwa aturan juga berlaku dalam dunia digital.
6.    Jangan mempercayai orang lain yang hanya berkomunikasi denganmu secara online
7.    Lindungi dirimu dan diri orang lain dari hal-hal yang bersifat ekstrim
8.    Jangan menilai dirimu dari jumlah likes dan postingan.
9.    Jangan mengukur dirimu dan tubuhmu dari angka-angka dan statistic.
10. Sesekali matikanlah perangkat digitalmu dan keluarlah ke dunia nyata.


Uraian Tambahan:

I.        Nousfer: metafisika internet
            Apa itu nousfer? De Chardin  mengatakan bahwa nusfer adalah puncak evolusi umat manusia. Pertama-tama evolusi berlangsung dalam wilayah biosfer, wilayah kehidupan organisme, di mana manusia juga termasuk di dalamnya. Tampaknya apa yang dahulu dimaksud atau diramalkan oleh de Chardin adalah apa yang kita sebut sekarang ini dengan World Wide Web, di dalamnya semua ide, gagasan dan  pengetahuan manusia terkumpul dan tersatukan. Karena isi dari www itu adalah buah gagasan dan pikiran umat manusia, maka memang tepat kalau de Chardin menamainya dengan nousfer. Nousfer, dengan demikian, adalah totalitas pemikiran organisme manusia yang tersatukan secara digital.

II.        Teologisasi internet
            Fenomena jaringan internet yang memungkinkan terbentuknya nousfer ini kemudian seakan-akan menyadarkan para ahli dalam memahami makna kemajuan dunia teknologi komunikasi internet sekarang. Orang kemudian memiliki alasan untuk berbicara secara teologis mengenai internet. Internet dan Tuhan seakan-akan memiliki paralelisme. Sebagaimana Tuhan, internet juga selalu hadir setiap saat dan tidak terikat ruang dan waktu. Dewasa ini, Tuhan seakan-akan menampakkan dirinya melalui media internet, karena dalam dan melalui media ini kita bisa melakukan apa yang bisa kita lakukan dalam hubungannya dengan Tuhan. Di atas kita telah melihat karakter-karakter internet yang memiliki banyak kesamaan dengan karakter Tuhan yang biasa kita ketahui. Tuhan dan internet memiliki struktur yang mirip.



I PUTU ADITYA PRAYOGA
16110111150
MP.F/6



Komentar